081999464835
081379620339
kelurahankendran@gmail.com
Kelurahan Kendran

Wastra Hitakara Menggema di Singaraja, Dekranasda Bali Dorong Endek Bali Naik Kelas hingga Pentas Dunia

Admin kelurahankendran | 08 Oktober 2026 | 67 kali

Wastra Hitakara Menggema di Singaraja, Dekranasda Bali Dorong Endek Bali Naik Kelas hingga Pentas Dunia

Singaraja, 8 Oktober 2026 – Semangat melestarikan sekaligus mengembangkan kekayaan wastra Bali kembali digaungkan di Kabupaten Buleleng. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali menggelar Dekranasda Bali Fashion Roadshow bertajuk “Wastra Hitakara” di Gedung Kesenian Gde Manik, Singaraja, Kamis (8/10).

Kegiatan yang dibuka oleh Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Nyonya Putri Suastini Koster, tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat ekosistem industri kreatif Bali, khususnya di bidang kriya dan busana. Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, Ketua Dekranasda Kabupaten Buleleng Nyonya Ida Ayu Wardhany Sutjidra beserta jajaran, pimpinan perangkat daerah Provinsi Bali, serta sejumlah undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Putri Suastini Koster menegaskan bahwa pengembangan dunia fashion Bali harus dilakukan secara berkelanjutan dengan memberikan ruang yang luas bagi para pelaku industri kreatif untuk berkembang. Dekranasda Provinsi Bali selama ini menjalankan tiga agenda utama sebagai wadah pengembangan dunia mode, yakni Bali Fashion Day, Bali Fashion Week, serta Bali Fashion Roadshow to Kabupaten/Kota.

Menurutnya, kegiatan roadshow ke kabupaten/kota memiliki arti penting karena menjadi sarana untuk menemukan sekaligus memperkuat talenta-talenta lokal. Dekranasda kabupaten/kota diharapkan tidak hanya menjadi penyelenggara kegiatan, tetapi juga aktif melakukan pembinaan terhadap desainer, pelaku UMKM, pengrajin, hingga model di daerah masing-masing.

“Kalau pembinaan di tingkat kabupaten berjalan dengan baik, maka Dekranasda Provinsi Bali akan lebih mudah mengajak dan membawa talenta-talenta tersebut ke panggung yang lebih besar,” ujar Putri.

Ia juga menyoroti posisi desainer sebagai salah satu unsur penting dalam membangun mata rantai industri fashion. Seorang desainer, katanya, harus memiliki kemampuan dan pemahaman terhadap teknik dasar, termasuk pembuatan pola, sehingga mampu menghasilkan karya orisinal dan tidak sekadar mengikuti atau meniru karya pihak lain.

Perpaduan antara kemampuan desain dengan kekayaan kain tradisional Bali juga dinilai mampu menciptakan produk fashion yang memiliki karakter sekaligus nilai jual. Dari proses tersebut, manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas, mulai dari penenun, pengrajin, penjahit, koreografer, musisi, hingga para model.

Wastra Bali, khususnya kain endek, tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menyimpan identitas, sejarah dan filosofi budaya Bali. Karena itu, pengembangannya perlu dilakukan secara kreatif tanpa menghilangkan akar tradisinya.

Komitmen membawa karya desainer Bali ke tingkat yang lebih luas juga telah ditunjukkan melalui berbagai partisipasi internasional. Dekranasda Bali mencatat sejumlah desainer Bali telah memperoleh kesempatan tampil di panggung mode internasional, termasuk dalam ajang di Paris bersama manajemen Christian Dior pada 2022 serta kegiatan memperingati hubungan diplomatik di Jepang pada 2023.

Ke depan, peluang untuk memperkenalkan karya dan wastra Bali ke dunia internasional akan terus diperluas melalui rencana keikutsertaan dalam berbagai agenda fashion dan pameran di Korea, Cina, serta sejumlah negara di kawasan Eropa.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Buleleng Nyonya Ida Ayu Wardhany Sutjidra menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan Dekranasda Provinsi Bali terhadap pengembangan industri kreatif di Buleleng.

Menurutnya, Bali Fashion Roadshow “Wastra Hitakara” menjadi momentum penting untuk semakin memperkenalkan potensi kerajinan Buleleng, khususnya kain endek, sekaligus membuka wawasan para pengrajin dan pelaku UMKM mengenai pentingnya meningkatkan nilai ekonomi dari produk yang dihasilkan.

Ia menegaskan bahwa kain endek tidak dapat dipandang hanya sebagai produk sandang. Di balik setiap lembar kain terdapat keterampilan, proses panjang, nilai budaya, serta filosofi yang diwariskan secara turun-temurun.

“Kerajinan endek bukan hanya kain yang berbalut pada tubuh kita, tetapi merupakan warisan budaya yang mempunyai makna sangat besar,” ungkap Ida Ayu Wardhany Sutjidra.

Dekranasda Kabupaten Buleleng, lanjutnya, akan terus mendorong para pengrajin dan pelaku UMKM agar mampu meningkatkan kualitas produk, memperkuat kreativitas, memperluas pemasaran, serta meningkatkan daya saing sehingga produk lokal Buleleng mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Semangat tersebut kemudian diwujudkan melalui peragaan busana yang menampilkan karya enam desainer dari Denpasar dan Buleleng. Beragam karya yang ditampilkan memperlihatkan bagaimana kain tenun tradisional Bali dapat diolah menjadi busana modern yang tetap mempertahankan karakter dan identitas lokal.

Panggung Wastra Hitakara pun menjadi ruang pertemuan berbagai potensi ekonomi kreatif. Para penenun, desainer, pengrajin, pelaku UMKM, koreografer, musisi, model hingga sektor pariwisata memiliki peluang untuk saling berkolaborasi dan menciptakan ekosistem industri kreatif yang semakin kuat.

Melalui kegiatan tersebut, Dekranasda Bali dan Dekranasda Buleleng tidak hanya menghadirkan sebuah pertunjukan fashion, tetapi juga membawa pesan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi dan pertumbuhan ekonomi.

Dari Singaraja, wastra Bali kembali mendapatkan panggung untuk menunjukkan jati dirinya—berakar pada tradisi, dikemas dengan kreativitas, dan dipersiapkan untuk menembus pasar dunia.